my profile

Have Fun for you

Minggu, 24 Juli 2016



Mutiara tersembunyi

            “hahahha...!”
            “Bulan.. jangan lari-lari, nanti jatuh lho..”
Canda dan tawa berderai dimana-mana, kebahagiaan terlukis dengan keakraban yang makin hari makin terpupuk. Sudut bibir tertarik keatas menunjukkan deretan gigi yang tidak terlalu putih, bergerak kesana kemari tanpa rasa lelah.
“apa kamu tahu kenapa mereka bisa begitu bahagia?”
“engg... entahlah! Karena apa?”
“harusnya mereka merasa sedih karna kehilangan atau tidak tahu siapa orang tua mereka, tapi aku tidak pernah melihat kesedihn dalam diri mereka, yang ada hanya senyum, canda dan kebahagaan di setiap waktu.. tanpa sadar mereka sudah memiliki keluarga baru disini!”
“yah..! aku turut merasa bahagia menjadi bagian dari keluara ini!” ucapku
Aku tersenyum mendengarnya, meskipun aku masih tergolong baru menjadi bagian keluarga ini, namun suasana bahagia sudah menyelubungiku.
“kak Ali , ayo ajarin aku nendang sampe gol, dari kemarin aku selalu gak bisa-bisa!!” seorang bocah laki-laki menarik-narik kemejaku, aku harus ikut denganya sebelum dia mulai merobek kemejaku .
“ayo, oke-oke.. pelan-pelan ya!” tegurku,
Yang namanya bocah ya tetep bocah, di bilangin dia malah brutal..  satu bocah lagi sudah bertindak sebagai kiper, kedua tanganya terbuka lebar dengan kaki sedikit di tekuk, bah..lagaknya seperti kiper Timnas.
“perhatikan bolanya sebelum kamu menendang, dan juga jangan menggunakan kaki bagian depan.. kamu bisa saja cidera , jadi pakai kaki bagian dalam yang belakang..!”
Aku menunjuk kakiku sendiri, dan dia memperhatikan dengan seriusnya, dia mengangguk penuh antusias..
“kakak al, ayo cepet tendang bolanya...! aku keburu gosong nih..” si kiper berteriak dengan suara nyaringnya, aku menendang bola plastik itu dan...
“yeee...! huuuu...” kiper kecil itu meneriakiku penuh ejekan, pasalnya bolaku tidak sampai didepan gawang sudah berhenti bergerak. Dasar si bola plastik
Aku menutup wajahku, pura-pura kecewa...  Dinda tertawa terpingkal melihatku, aku sukses mempermalukan diriku sendiri.
“itu karna bolanya... bola itu tidak ada beban sama sekali, tertiup angin sedikit saja sudah terbang..!” elakku, aku kembali duduk di kursiku semula.. disamping Dinda yang belum juga berhenti tertawa .
“Dinda, nak Ali.. ayo makan siang dulu..”
Seorang perempuan paruh baya dengan jilbab hijau memanggilku dari dalam ruang makan, namaku Ali dan perempuan cantik yang duduk disampingku ini Dinda, di tempat ini banyak sekali perempuan cantik.
“iya bu..!” jawab dinda dan segera beranjak pergi, aku mengikuti di belakangnya.
Kedekatan antar anak dan bunda di sini, menyadarkanku bahwa kasih sayang bisa diberikan oleh siapa saja dan ke siapa saja, tidak peduli keluarga atau orang lain yang tidak dikenal sama sekali, kebanyakan penghuni panti asuhan ini adalah anak gelandangan yang sengaja di rawat , atau anak yang dibuang orangtuanya. Dunia memang sudah Gila, anak dibuang-buang, memangnya sampah yang bisa di daur ulang.
            Tak sadar sudah hampir seharian aku disini, bermain bersama anak-anak Malang yang terbuang dan kehilangan kasih sayang ini, makan bersama orang-orang yang sudah kuanggap sebagai keluarga keduaku, merajut mimpi dan menggapai asa.
“apa kau tidak bisa menginap saja! Ini sudah malam..!”
Dinda mengantarku sampai di mobilku, aku tersenyum tipis..
“sebenarnya ingin! Tapi kan ...akh! gak usah deh, aku pulang saja..!”
“udahlah gak usah sungkan! Kamu punya tempat khusus disini..karna keluargamu donatur utama panti asuhan kami!” Tutur Dinda dengan senyum serta wajah memohon, dengan sikapnya itu aku tidak bisa menolak lagi.
            Dinda pergi untuk melihat anak-anak asuhnya, hari sudah mala dan harusnya mereka sudah tidur, tapi kenapa Dinda belum kembali juga. Aku duduk dengan risau diatas tempat tidur, hanya kasur tanpa bantal dan selimut.
Tok..tok..tok
Itu pasti Dinda, aku segera berderap membuka pintu, dan benar saja..Dinda muncul dengan sebuah bantal dan sebuah selimut ditanganya.
“kau pasti sudah sangat mengantuk! Maaf ya..” ucapnya dan langsung menerobos ke dalam, aku sedikit tercengang.. Dinda sangat berani rupanya.
“okay, selesai...! selamat tidur” ucapnya usai melempar bantal dan selimut ke atas kasur. Aku mengangguk padanya.. dan dia akan beranjak keluar,  tepat sebelum aku menahan lenganya.
“terima kasih ..!” kataku pelan. Dinda hanya tersenyum dan melepaskan diri dariku, sebelum pergi aku sempat melihat kedua pipinya memerah . entah kenapa justru aku malah senang membuatnya malu.
            Aku mengenal panti asuhan ‘Muara Bunda’ ini dari orangtuaku, papa dan mamaku selalu mengajarkankku sejak kecil untuk berbagi , keluargaku mulai dari kakek buyut sampai papaku menjadi donatur tetap dan yang terbesar untuk Panti Asuhan ini, mungkin ini salah satu alasan aku mendapat banyak keistimewaan disini.
Dinda salah satu keistimewaan itu, mungkin dia tidak tahu atau bahkan tidak sadar, namun sejak pertama kali aku berkunjung ke panti dan bertemu denganya, aku sudah merasakan debaran aneh, dan saat itu juga aku tahu , dia telah membuatku jatuh cinta.Aku rasa Dinda begitu bodoh untuk mengerti dirinya sendiri.
            Beberapa puluh menit berlalu sia-sia, mataku belum terpejam juga.. harusnya aku bisa dengan mudah tidur, kasur dan selimut ini sangat nyaman.. yang membuatku tidak bisa tidur adalah sepucuk surat, diatas sobekan kertas yang datang bersama selimut dan bantal tadi.
Aku tahu ini salah! Bahkan sangat salah.. tapi maaf, aku tidak pernah bisa menekan dan mengubur rasa ini begitu saja. Rasa yang salah ini berkembang begitu cepta disetiap tarikan nafasku, aku hanya bisa mengatakan maaf untuk ini. Aku rasa, aku mulai menyayangimu Al, kamu gak usah bilang apa-apa, secepatnya aku akan membuang perasaan ini, karna aku tahu aku sangatlah tidak pantas untukmu!
Dinda*
Dinda salah satu keistimewaan yang diberikan panti asuhan ini, mungkin dia tidak tahu atau bahkan tidak sadar, namun sejak pertama kali aku berkunjung ke panti dan bertemu denganya, aku sudah merasakan debaran aneh, dan saat itu juga aku tahu , dia telah membuatku jatuh cinta.Aku rasa Dinda begitu bodoh untuk mengerti dirinya sendiri.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar