Mutiara tersembunyi
“hahahha...!”
“Bulan.. jangan lari-lari, nanti jatuh lho..”
Canda dan tawa berderai
dimana-mana, kebahagiaan terlukis dengan keakraban yang makin hari makin
terpupuk. Sudut bibir tertarik keatas menunjukkan deretan gigi yang tidak
terlalu putih, bergerak kesana kemari tanpa rasa lelah.
“apa kamu tahu kenapa mereka
bisa begitu bahagia?”
“engg... entahlah! Karena apa?”
“harusnya mereka merasa sedih
karna kehilangan atau tidak tahu siapa orang tua mereka, tapi aku tidak pernah
melihat kesedihn dalam diri mereka, yang ada hanya senyum, canda dan kebahagaan
di setiap waktu.. tanpa sadar mereka sudah memiliki keluarga baru disini!”
“yah..! aku turut merasa
bahagia menjadi bagian dari keluara ini!” ucapku
Aku tersenyum mendengarnya, meskipun
aku masih tergolong baru menjadi bagian keluarga ini, namun suasana bahagia
sudah menyelubungiku.
“kak Ali , ayo ajarin aku
nendang sampe gol, dari kemarin aku selalu gak bisa-bisa!!” seorang bocah
laki-laki menarik-narik kemejaku, aku harus ikut denganya sebelum dia mulai
merobek kemejaku .
“ayo, oke-oke.. pelan-pelan
ya!” tegurku,
Yang namanya bocah ya tetep
bocah, di bilangin dia malah brutal..
satu bocah lagi sudah bertindak sebagai kiper, kedua tanganya terbuka
lebar dengan kaki sedikit di tekuk, bah..lagaknya seperti kiper Timnas.
“perhatikan bolanya sebelum
kamu menendang, dan juga jangan menggunakan kaki bagian depan.. kamu bisa saja
cidera , jadi pakai kaki bagian dalam yang belakang..!”
Aku menunjuk kakiku sendiri,
dan dia memperhatikan dengan seriusnya, dia mengangguk penuh antusias..
“kakak al, ayo cepet tendang
bolanya...! aku keburu gosong nih..” si kiper berteriak dengan suara
nyaringnya, aku menendang bola plastik itu dan...
“yeee...! huuuu...” kiper kecil
itu meneriakiku penuh ejekan, pasalnya bolaku tidak sampai didepan gawang sudah
berhenti bergerak. Dasar si bola plastik
Aku menutup wajahku, pura-pura
kecewa... Dinda tertawa terpingkal
melihatku, aku sukses mempermalukan diriku sendiri.
“itu karna bolanya... bola itu
tidak ada beban sama sekali, tertiup angin sedikit saja sudah terbang..!”
elakku, aku kembali duduk di kursiku semula.. disamping Dinda yang belum juga
berhenti tertawa .
“Dinda, nak Ali.. ayo makan
siang dulu..”
Seorang perempuan paruh baya
dengan jilbab hijau memanggilku dari dalam ruang makan, namaku Ali dan
perempuan cantik yang duduk disampingku ini Dinda, di tempat ini banyak sekali
perempuan cantik.
“iya bu..!” jawab dinda dan
segera beranjak pergi, aku mengikuti di belakangnya.
Kedekatan antar anak dan bunda
di sini, menyadarkanku bahwa kasih sayang bisa diberikan oleh siapa saja dan ke
siapa saja, tidak peduli keluarga atau orang lain yang tidak dikenal sama
sekali, kebanyakan penghuni panti asuhan ini adalah anak gelandangan yang
sengaja di rawat , atau anak yang dibuang orangtuanya. Dunia memang sudah Gila,
anak dibuang-buang, memangnya sampah yang bisa di daur ulang.
Tak sadar sudah hampir seharian aku disini, bermain
bersama anak-anak Malang yang terbuang dan kehilangan kasih sayang ini, makan
bersama orang-orang yang sudah kuanggap sebagai keluarga keduaku, merajut mimpi
dan menggapai asa.
“apa kau tidak bisa menginap
saja! Ini sudah malam..!”
Dinda mengantarku sampai di
mobilku, aku tersenyum tipis..
“sebenarnya ingin! Tapi kan
...akh! gak usah deh, aku pulang saja..!”
“udahlah gak usah sungkan! Kamu
punya tempat khusus disini..karna keluargamu donatur utama panti asuhan kami!”
Tutur Dinda dengan senyum serta wajah memohon, dengan sikapnya itu aku tidak
bisa menolak lagi.
Dinda pergi untuk melihat anak-anak asuhnya, hari sudah
mala dan harusnya mereka sudah tidur, tapi kenapa Dinda belum kembali juga. Aku
duduk dengan risau diatas tempat tidur, hanya kasur tanpa bantal dan selimut.
Tok..tok..tok
Itu pasti Dinda, aku segera
berderap membuka pintu, dan benar saja..Dinda muncul dengan sebuah bantal dan
sebuah selimut ditanganya.
“kau pasti sudah sangat
mengantuk! Maaf ya..” ucapnya dan langsung menerobos ke dalam, aku sedikit
tercengang.. Dinda sangat berani rupanya.
“okay, selesai...! selamat tidur”
ucapnya usai melempar bantal dan selimut ke atas kasur. Aku mengangguk
padanya.. dan dia akan beranjak keluar, tepat
sebelum aku menahan lenganya.
“terima kasih ..!” kataku
pelan. Dinda hanya tersenyum dan melepaskan diri dariku, sebelum pergi aku sempat
melihat kedua pipinya memerah . entah kenapa justru aku malah senang membuatnya
malu.
Aku
mengenal panti asuhan ‘Muara Bunda’ ini dari orangtuaku, papa dan mamaku selalu
mengajarkankku sejak kecil untuk berbagi , keluargaku mulai dari kakek buyut sampai
papaku menjadi donatur tetap dan yang terbesar untuk Panti Asuhan ini, mungkin
ini salah satu alasan aku mendapat banyak keistimewaan disini.
Dinda salah satu keistimewaan itu, mungkin dia tidak tahu
atau bahkan tidak sadar, namun sejak pertama kali aku berkunjung ke panti dan
bertemu denganya, aku sudah merasakan debaran aneh, dan saat itu juga aku tahu
, dia telah membuatku jatuh cinta.Aku rasa Dinda begitu bodoh untuk mengerti
dirinya sendiri.
Beberapa
puluh menit berlalu sia-sia, mataku belum terpejam juga.. harusnya aku bisa
dengan mudah tidur, kasur dan selimut ini sangat nyaman.. yang membuatku tidak
bisa tidur adalah sepucuk surat, diatas sobekan kertas yang datang bersama
selimut dan bantal tadi.
Aku tahu ini salah!
Bahkan sangat salah.. tapi maaf, aku tidak pernah bisa menekan dan mengubur
rasa ini begitu saja. Rasa yang salah ini berkembang begitu cepta disetiap
tarikan nafasku, aku hanya bisa mengatakan maaf untuk ini. Aku rasa, aku mulai
menyayangimu Al, kamu gak usah bilang apa-apa, secepatnya aku akan membuang
perasaan ini, karna aku tahu aku sangatlah tidak pantas untukmu!
Dinda*
Dinda salah satu keistimewaan yang diberikan panti asuhan
ini, mungkin dia tidak tahu atau bahkan tidak sadar, namun sejak pertama kali
aku berkunjung ke panti dan bertemu denganya, aku sudah merasakan debaran aneh,
dan saat itu juga aku tahu , dia telah membuatku jatuh cinta.Aku rasa Dinda
begitu bodoh untuk mengerti dirinya sendiri.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar